KUTARAJAPOST – Maraknya pencurian di dalam pesawat kini menjadi ancaman nyata bagi penumpang di rute sibuk Asia. Kejahatan disebut semakin terorganisasi dan menyasar pelancong bisnis dengan barang bernilai tinggi.
Otoritas penerbangan dan kepolisian bandara di sejumlah negara mencatat lonjakan signifikan kasus pencurian sepanjang 2024. Laporan South China Morning Post menyebutkan sindikat asal China menjadi perhatian utama.
Pakar penerbangan memperingatkan rute padat di Asia semakin sering menjadi target sindikat pencurian berkelompok. Uang tunai, kartu kredit, serta tas dan aksesori mewah di kompartemen atas kabin menjadi incaran.
Maskapai Asia-Pasifik mengangkut 365 juta penumpang internasional pada 2024, naik 30,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Seiring lonjakan penumpang, kasus pencurian di Malaysia dan Hong Kong melonjak hingga 70 persen.
Perwakilan maskapai dan otoritas menyebutkan penangkapan pelaku sebagai indikasi sindikat kriminal asal China. Fenomena meningkat sejak perjalanan internasional kembali dibuka pascapandemi Covid-19, ditambah kebijakan bebas visa di sejumlah negara Asia.
“Kenaikan pencurian di dalam pesawat tampaknya bersifat ‘terorganisasi’ dan sebagian besar dijalankan dari China,” kata Nick Careen, Wakil Presiden Senior International Air Transport Association (IATA).
Singapura gencar mempublikasikan penindakan terhadap pelaku pencurian di pesawat. Empat warga negara China didakwa atas kasus pencurian di penerbangan yang mendarat di Bandara Changi sepanjang 2025.
Pada 23 Desember, seorang warga negara China berusia 26 tahun bernama Liu Ming dijatuhi hukuman 20 bulan penjara. Ia terbukti mencuri tas penumpang berisi barang senilai lebih dari 100.000 dollar AS, termasuk jam mewah Audemars Piguet dan Chopard, di penerbangan kelas bisnis Singapore Airlines dari Dubai ke Singapura.
“Tiket kelas bisnisnya diduga dibiayai sindikat kejahatan, memungkinkan ia mencuri tas penumpang,” tulis laporan pengadilan.
“Laporan yang cepat sangat penting agar petugas kami dapat segera melacak dan menangkap tersangka sebelum mereka menaiki penerbangan berikutnya,” ujar Komandan Polisi Bandara Singapura, Malathi Muthu Veran.
Malaysia mencatat 146 kasus pencurian di pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur sepanjang 2024, dengan total 267 kasus sejak 2022. Jepang menangani 19 kasus di Bandara Narita Tokyo dari Januari hingga Oktober 2024. Hong Kong mencatat angka tertinggi dengan 169 kasus sepanjang 2024, dengan nilai barang curian mencapai 700.000 dollar AS dalam 10 bulan pertama.
Pakar mengatakan pengawasan penuh terhadap pergerakan penumpang dan tas di kabin hampir mustahil dilakukan.
“Pelaku pencurian di pesawat sangat jeli melihat celah ini dan telah menyusun strategi untuk menyasar tas kabin yang tidak diawasi dalam waktu tertentu selama penerbangan,” kata Dr Mohd Harridon Mohamen Suffian dari Universiti Kuala Lumpur Business School.
Sebagian maskapai seperti Emirates, Cathay Pacific, dan Singapore Airlines telah memasang kamera pengawas di kabin. Namun banyak maskapai lain belum melakukannya karena biaya dan isu privasi. Kamera kabin juga belum diwajibkan regulator penerbangan AS serta asosiasi pilot internasional.
Selain itu, belum ada sistem pelaporan terpadu antar-maskapai. Celah ini dimanfaatkan sindikat untuk berpindah penerbangan tanpa terdeteksi.
“Maskapai seharusnya memimpin dengan memperbaiki sistem pelaporan, melatih awak kabin dalam pencegahan pencurian, dan berinvestasi pada langkah keamanan yang lebih baik,” ujar Kapten Abdul Manan Mansor dari University College of Aviation Malaysia. []




























