KUTARAJAPOST – Madrasah di sejumlah kabupaten/kota terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh mulai bersiap melaksanakan pembelajaran tatap muka pada 5 Januari 2026.
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, mengatakan mayoritas madrasah sudah siap. Dari 500 madrasah terdampak, 437 dinyatakan bisa kembali menggelar kegiatan belajar mengajar.
“Alhamdulillah, mayoritas madrasah terdampak sudah siap melaksanakan PBM. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa dari para pendidik, tenaga kependidikan, serta dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan bagi anak-anak kita,” ujar Khairul yang juga Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh, pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Masih ada 63 madrasah yang belum bisa melaksanakan PBM. Lokasinya tersebar di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, dan Bener Meriah. “Aceh Utara dan Aceh Tamiang paling banyak,” katanya.
Rinciannya, 19 madrasah di Aceh Utara, 17 di Aceh Tamiang, 14 di Aceh Tengah, 7 di Pidie Jaya, 4 di Bireuen, dan 2 di Bener Meriah.
Khairul menjelaskan kendala utama berupa ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur, material banjir yang menimbun bangunan, serta akses jalan yang belum bisa dilalui.
Di beberapa wilayah, madrasah masih digunakan sebagai lokasi pengungsian. Ada juga kawasan yang berstatus siaga bencana, seperti di Bener Meriah.
Meski begitu, 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir sudah siap melaksanakan PBM dengan direlokasi ke tempat sementara, seperti masjid, meunasah, atau lapangan desa.
Khairul menegaskan Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan relawan untuk mempercepat pemulihan sarana madrasah.
“Kami terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar madrasah yang belum siap dapat segera menyusul. Prinsipnya, PBM hanya akan dilaksanakan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru,” ujarnya.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan tetap berjalan.
“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” katanya.
Ia mengapresiasi solidaritas relawan, aparat pemerintah daerah, dan masyarakat yang membantu pemulihan madrasah.
Dengan berangsur pulihnya kondisi madrasah, Kemenag Aceh berharap seluruh peserta didik segera kembali belajar secara normal. Hak anak atas pendidikan diupayakan tetap terpenuhi meski dalam kondisi darurat.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak akhir 2025 merusak ratusan sekolah, rumah, dan fasilitas umum.[]