KUTARAJAPOST – Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan pesan awal tahun 2026 yang penuh makna. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya amanah, kejujuran, dan tanggung jawab bagi pejabat maupun masyarakat.
Pesan itu diunggah melalui channel Adi Hidayat Official pada 1 Januari 2026. UAH menekankan setiap pergantian waktu harus dimaknai sebagai peluang memperbaiki diri, memperbanyak kebaikan, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Teman-teman, seperti diketahui bahwa hari ini berdasarkan penanggalan Masehi telah memasuki hari baru, di bulan baru dan di tahun baru, 1 Januari 2026 Masehi bertepatan dengan 9 Rajab 1455 Hijriah.”
“Tentu kita berharap setiap pergantian waktu, tidak hanya tahun, bulan, pekan, hari, bahkan menit, detik senantiasa membawa kebaikan untuk kita semua dan diberi kemampuan kita semua tanpa kecuali untuk mengoleksi beragam bentuk kebaikan, menampilkan karya-karya mulia yang bermanfaat untuk kita di kehidupan dunia ini dan juga sebagai bekal terbaik untuk pulang menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala.”
UAH menegaskan pesan ini ditujukan untuk semua kalangan, dari presiden hingga masyarakat biasa.
“Untuk itu perkenankan di kesempatan yang Insya Allah baik ini saya memberikan pesan untuk pribadi juga untuk kita semua terkhusus para kalangan pejabat dari presiden, para menteri, gubernur sampai ke level-level bawahnya pun demikian dengan seluruh lapisan masyarakat.”
“Mari kita semua berupaya meningkatkan takwa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu wa ta’ala. Takwa adalah gambaran dari kolektivitas kebaikan. Segala bentuk sifat-sifat dan karya-karya baik disebut dengan takwa. Artinya meningkatkan takwa adalah upaya untuk meningkatkan karya-karya terbaik, meningkatkan segala program yang bermanfaat. segala hal yang mengandung maslahat bagi kehidupan dalam konteks berbangsa dan bernegara.”
UAH mengingatkan pentingnya evaluasi diri.
“Mari kita belajar dari kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi di tahun yang lalu. Khususnya setelah kita ketahui, kita berupaya untuk menyempurnakan. Bila ada hal-hal yang kurang, itu pertanda kita manusia. Bila ada hal-hal yang salah, tampak, itu tandanya kita harus kembali untuk memperbaiki. Orang yang baik adalah orang yang berupaya memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi.”
“Orang yang mulia bukan orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang berupaya menampilkan kesalehan setelah ia berbuat salah.”
UAH menekankan jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
“Jabatan hanya sementara. Bagi para pejabat di level manaun sungguh anda yang terpilih, bukan yang lain. Maka jabatan itu sudah pasti akan dievaluasi, dipertanggungjawabkan. Bila tidak di dunia, tentu saja di akhirat. Kita tentu dengan rasa cinta bermohon pada Allah agar proses evaluasi itu berlangsung ringan, memberikan manfaat, memberikan kredit yang positif sehingga dengan itu berpeluang mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala.”
UAH mengingatkan ulama agar memaksimalkan ilmu untuk mencerahkan masyarakat. Ia juga menekankan pengusaha harus jujur dalam mencari rezeki.
“Teman-teman pengusaha, mari berusaha dengan jujur. Mari berusaha dengan cara yang benar. Rezeki sudah Allah tetapkan. Cara mencarinya pun aturannya sederhana. Ini yang halal, ini yang haram. Jika kita bisa mendapatkan yang halal, mengapa harus bertarung untuk meraih yang haram? Untuk itu, mari kita buat resolusi yang baru. Toh juga makan kita terbatas. Berpakaian sehari barangkali hanya satu lapis. Makan sehari mungkin hanya tiga kali. Ruangan yang kita tempati hanya kecil saja. Tidak salah kita kumpulkan, tapi mengumpulkan dengan cara yang salah. Itu yang jadi persoalan.”
UAH mengajak masyarakat tetap optimis dan menghadirkan kedamaian.
“Masyarakat tetap optimis, jangan merasa fakir, jangan merasa miskin sepanjang kita meyakini bahwa kita adalah hamba dari Tuhan yang Maha Kaya. Bagaimana kita merasa fakir kalau Tuhan Kita Maha Kaya? Yang lebih penting ketersambungan kita dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Mungkin yang menjadikan perasaan kita kurang bukan karena kurangnya harta, bukan karena kurangnya kemapanan, tapi kurangnya kedekatan kita dan ketersambungan kita dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.”
“Semoga awal tahun ini kita diridai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, digugurkan seluruh dosa-dosa, diampuni, dihilangkan kesalahan kita dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tentu sebagai pribadi saya mengawali itu. Mohon maaf bila dalam setiap tutur, ucapan, tindakan berpotensi ditemukan hal-hal yang kurang berkenan, yang tidak elok. Mohon dimaafkan. Tentu bukan hanya sekedar suasana tahun baru, karena setiap waktu berganti selalu ada resiko-resiko yang mungkin terjadi. Terima kasih atas perhatiannya selama ini. Semoga Allah ridai. Subhanakallahumma rabbana wabihamdika asadu alla ilaha illa anta nastagfirukaubu ilaik. Wasallallahu ala sayidina Muhammad waa alihi wasbihi ajmain. Alhamdulillahiabbil alamin. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”[]






























