ACEH UTARA – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh dan Posko Health Emergency Operation Center (HEOC), mengerahkan layanan kesehatan darurat bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh sekaligus Ketua HEOC, Ferdiyus, SKM, M.Kes., menyatakan bahwa tim Emergency Medical Team (EMT) Terpadu Batch V telah memberikan pelayanan kesehatan kepada sekitar 1.300 warga yang terdampak pada periode 4 hingga 7 Januari 2026.
“Dari laporan lapangan EMT, kami mencatat sekitar 1.300 warga telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Tiga penyakit utama yang muncul pascabanjir adalah ISPA, penyakit kulit, dan diare,” ujar Ferdiyus, Kamis, 8 Januari 2026.
Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh di berbagai kecamatan yang terdampak parah, seperti Baktiya, Tanah Jambo Aye, Langkahan, Seunudon, Lapang, Samudera, Cot Girek, Sawang, hingga Babah Buloh. Layanan diberikan melalui posko kesehatan tetap di fasilitas pengungsian serta secara mobile menjangkau desa-desa terpencil yang akses jalannya terputus akibat genangan banjir.
Berdasarkan laporan EMT yang diterima HEOC, pola penyakit tersebut ditemukan konsisten di hampir seluruh titik lokasi pelayanan.
“Tingginya angka ISPA dan penyakit kulit sangat terkait dengan kondisi lingkungan. Setelah banjir, kami menemukan banyak masalah seperti sanitasi yang buruk dan air bersih yang sangat terbatas,” papar Ferdiyus.
Kondisi lingkungan pascabanjir diduga menjadi penyebab utama tingginya kasus penyakit tersebut. Pemantauan lapangan HEOC mengidentifikasi beberapa faktor risiko, seperti sanitasi lingkungan yang buruk, keterbatasan ketersediaan air bersih layak konsumsi, rusaknya fasilitas jamban, serta belum berfungsinya sistem pengelolaan sampah di sejumlah lokasi.
“Tidak hanya melayani di posko. Tim juga bergerak mobile, bahkan menggunakan perahu ke desa-desa yang terisolasi karena jalan terputus, untuk memastikan tidak ada warga yang terlewatkan saat membutuhkan pelayanan kesehatan,” jelas Ferdiyus.
Selain memberikan pengobatan, tim EMT melaksanakan serangkaian kegiatan mencakup pemantauan kualitas air bersih, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), skrining status gizi bagi balita dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, serta trauma healing bagi anak-anak melalui permainan edukatif seperti ular tangga bertema PHBS.
Kelompok rentan, termasuk balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia, menjadi prioritas utama dalam pelayanan ini. Pemerintah Aceh melalui HEOC terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.
“Prioritas kami adalah kesehatan kelompok rentan dan pemulihan lingkungan. Edukasi PHBS dan penyediaan akses air bersih adalah kunci pencegahan wabah pascabencana,” tutup Ferdiyus.[]





























