KUTARAJAPOST – Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan komitmen Kementerian Pertanian untuk mengembalikan Indonesia swasembada bawang putih. Langkah strategis dimulai dari sektor paling mendasar, yakni pembibitan. Ia menilai fase pembibitan menjadi fondasi utama kebangkitan produksi bawang putih dalam negeri.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan bawang putih sebagai komoditas prioritas swasembada. Arahan tersebut diterjemahkan melalui penyediaan bibit unggul secara berkelanjutan.
“Kalau mau swasembada, ya harus tanam. Dan kalau mau tanam, harus ada bibit. Jadi sekarang ini kita mulai dari pembibitan,” kata Wamentan Sudaryono, pada Senin 12 Januari 2026.
Ia menjelaskan, kebutuhan bawang putih nasional dapat dipenuhi dengan penanaman sekitar 100 ribu hektare. Namun, ketersediaan bibit berkualitas menjadi syarat mutlak agar program berjalan berkelanjutan.
Pemerintah kini mengakselerasi fase pembibitan secara nasional. Salah satunya melalui pengembangan Horti Center di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, sebagai sentra pembibitan bawang putih di dataran tinggi. Selain kualitas bibit, faktor agroklimat seperti ketinggian lokasi tanam menjadi perhatian dalam penentuan kawasan pengembangan.
“Sekarang fasenya bagaimana kita sediakan bibit lebih banyak dan lebih baik. Karena tanpa bibit, swasembada itu tidak akan pernah jalan,” ungkap Sudaryono yang juga anak petani asal Grobogan, Jawa Tengah.
Program swasembada bawang putih telah masuk dalam roadmap pembangunan pertanian hingga 2029. Optimisme pemerintah bukan tanpa dasar. Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995.
“Ini bukan sulapan. Ini pengalaman yang pernah kita lakukan. Ilmunya kita punya, dan rasanya kita mampu,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan keberanian memulai dan konsistensi kebijakan.
“Mantra swasembada itu harus diwujudkan. Kuncinya political will, dan itu sudah jelas dari Presiden,” tambahnya.
Ia menekankan swasembada bawang putih bukan sekadar soal produksi. Program ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menciptakan efek ekonomi berantai di daerah sentra produksi.
“Kalau kebutuhan bisa kita penuhi sendiri, petani sejahtera, ekonomi tumbuh,” pungkasnya.[]





























