KUTARAJAPOST – Pemerintah memastikan produksi dan cadangan pangan nasional tetap terjaga meski sebagian lahan pertanian di Sumatra terdampak bencana.
Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan, Sugeng Santoso, menyebut koordinasi lintas kementerian dan lembaga telah dilakukan untuk menangani dampak tersebut.
“Jadi kita sudah koordinasi juga dengan teman-teman di Kementan, dengan teman-teman di K/L terkait, itu memang ada sekitar 102 ribu hektare lahan pertanian kita yang terdampak,” ujar Sugeng.
Dari total lahan terdampak, sebagian besar mengalami kerusakan berat. “Gradasinya macam-macam. Dari 102 ribu hektare itu, lahan yang rusak parah sekitar 98 ribu hektare, yang lainnya rusak ringan,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah telah membentuk satuan tugas (Satgas) untuk rehabilitasi lahan pertanian di Sumatra. Satgas akan bekerja bersama pemerintah daerah dan kelompok tani untuk mempercepat pemulihan lahan.
Meski menghadapi tantangan, pemerintah tetap menargetkan penyerapan beras tahun 2026 sebesar 4 juta ton. “Sehingga kita targetkan penyerapan kita 4 juta ton dengan sisa stok 3,2 (juta ton) maka ada 7,2 sampai 7,3 juta ton stok cadangan beras pemerintah yang akan dikelola oleh Perum Bulog,” ujarnya.
Selain beras, pemerintah juga berfokus menyerap jagung untuk pakan hingga 1 juta ton pada tahun ini. “Jadi ada jagung nanti untuk pakan, kita juga ada target penyerapan 1 juta ton, kita tetapkan di rakortas terakhir kemarin,” beber Sugeng.
Sugeng menambahkan, pemenuhan bawang putih dalam negeri masih bergantung pada impor dari Tiongkok hingga 95 persen. Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih pada 2029.
“Kita sekarang sedang buat roadmap dengan teman-teman di Kementan untuk tahun 2029 kita bisa swasembada bawang putih. Karena benihnya juga sedang kita siapkan dengan 3 sentra, ada di Humbang Hasundutan (Sumatra Utara), kemudian di Jawa Tengah, dan di Sembalun (NTB),” pungkasnya.[]






























