Oleh: Syardani M. Syarif*
TULISAN ini bukan tentang membela tanpa batas, tapi mencoba melihat dengan lebih tenang dan manusiawi.
Beberapa bulan terakhir, kita sering mendengar kabar bahwa kondisi kesehatan Mualem tidak stabil. Ia beberapa kali harus dirawat di rumah sakit, bahkan hingga ke luar negeri. Di tengah jabatan sebagai Gubernur Aceh, kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sepele.
Tapi mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: kenapa bisa sampai seperti itu?
Jawabannya sebenarnya cukup sederhana—terlalu lelah.
Setiap hari, Mualem menerima tamu tanpa henti. Dari pagi hingga larut malam, bahkan sampai pukul 3 dini hari, ia masih melayani orang-orang yang datang. Mereka datang dari berbagai kalangan: mantan pejuang, tokoh politik, mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat biasa.
Ada yang ingin sekadar bersilaturahmi, ada yang membawa proposal, ada yang meminta bantuan biaya hidup, bahkan ada yang berharap solusi atas masalah pribadi mereka.
Di titik ini, kita bisa melihat satu hal: Mualem bukan hanya gubernur, tapi juga tempat mengadu bagi banyak orang.
Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan sesuatu yang kurang sehat dalam tata kelola pemerintahan. Seorang gubernur seharusnya tidak menanggung semuanya sendiri. Ada kepala dinas, biro, dan badan yang mestinya bisa membantu menyaring, menangani, dan menyelesaikan banyak persoalan teknis.
Sumber: Tribunnews Aceh


























