JAKARTA — Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan baru ke wilayah Iran pada Selasa, 14 Juli 2026. Teheran membalas dengan serangan terhadap target di kawasan Teluk, termasuk kapal tanker dan fasilitas militer yang terkait dengan sekutu Washington. Pusat ketegangan kali ini bukan hanya daratan Iran, tetapi Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan energi dunia.
Associated Press melaporkan bahwa serangan AS dilakukan beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran dan menarik biaya dari kapal-kapal yang melintas dengan perlindungan AS. Komando Pusat AS menyebut sasaran serangan meliputi sistem pertahanan pantai, lokasi rudal dan drone, serta kemampuan maritim Iran. Washington berdalih serangan itu ditujukan untuk menekan kemampuan Iran menyerang kapal dagang dan warga sipil di Selat Hormuz.
Al Jazeera, mengutip perkembangan terbaru pada hari yang sama, melaporkan Iran mengklaim serangan balasan terhadap sasaran di Kuwait, Bahrain, dan Yordania, serta dua tanker minyak di Selat Hormuz. Uni Emirat Arab menyebut dua kapal tankernya terkena rudal jelajah Iran. Seorang awak kapal asal India dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka, membuat New Delhi memanggil perwakilan Iran.
Eskalasi ini merusak kesepakatan sementara yang sebelumnya dimaksudkan untuk meredakan pertempuran dan membuka kembali jalur pelayaran. Dalam situasi normal, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, setiap serangan di kawasan tersebut cepat menjalar ke pasar energi, ongkos pengiriman, dan kekhawatiran inflasi di banyak negara.
Trump mengatakan AS akan “mengendalikan” selat itu dan meminta kompensasi dari negara-negara kaya di kawasan Teluk karena Washington mengaku melindungi jalur pelayaran mereka. Pernyataan itu memicu pertanyaan besar: apakah AS benar-benar mampu mengamankan Hormuz tanpa operasi militer yang jauh lebih besar?
Sejumlah analis yang dikutip AP menilai upaya membuka penuh Selat Hormuz tidak cukup dengan serangan udara. Iran dinilai masih memiliki drone, rudal, dan unit kecil yang dapat bergerak tersebar di pesisir dan pulau-pulau sekitar jalur pelayaran. Jason H. Campbell dari Middle East Institute mengatakan Iran telah lama menyiapkan pola konflik asimetris seperti ini, sehingga mengamankan selat bisa memerlukan armada lebih besar, bahkan pasukan darat dalam jumlah besar jika Washington ingin menekan ancaman sampai ke sumbernya.
Di sisi lain, Iran juga mengambil risiko besar. Serangan terhadap kapal tanker dan target di negara Teluk dapat memperluas perang ke aktor-aktor regional yang selama ini berusaha menahan diri. Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania memiliki hubungan keamanan erat dengan Amerika Serikat. Jika korban sipil atau kerusakan infrastruktur energi bertambah, tekanan untuk membalas Iran akan makin kuat.
Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, krisis Hormuz perlu dipantau karena dampaknya dapat masuk lewat harga minyak, biaya logistik, dan nilai tukar. Belum ada tanda bahwa pasokan global langsung lumpuh total, tetapi pasar biasanya bereaksi lebih cepat daripada diplomasi. Jika pelayaran di Hormuz makin terganggu, biaya bahan bakar dan distribusi bisa ikut terdorong naik.
Jalur diplomasi masih disebut terbuka, tetapi ruangnya menyempit. Al Jazeera melaporkan Pakistan masih berusaha mendorong dialog setelah sebelumnya ikut memediasi nota kesepahaman AS-Iran. Namun serangan terbaru membuat rasa saling percaya kembali runtuh. Trump juga masih mengancam target lain di Iran, meski pada saat yang sama menyatakan kesepakatan tetap mungkin dicapai.
Krisis ini kini bergerak di dua medan sekaligus: perang tembak-menembak dan perang saraf atas siapa yang menguasai Selat Hormuz. Jika AS terus menyerang dan Iran terus menekan kapal di Teluk, risiko salah hitung akan makin besar. Satu serangan yang menewaskan lebih banyak pelaut, mengenai fasilitas energi besar, atau menyeret pangkalan negara Teluk bisa mengubah krisis ini menjadi perang regional yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Sumber utama: Associated Press dan Al Jazeera, 14 Juli 2026.



























