JAKARTA – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali melonjak setelah militer AS menyatakan telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap sasaran militer Iran, termasuk fasilitas yang disebut digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
BBC melaporkan serangan terbaru itu terjadi pada Rabu waktu setempat. Komando Pusat AS atau Centcom menyebut targetnya mencakup pusat komando, situs pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, serta fasilitas pengawasan pesisir. Salah satu titik yang disebut berada di Bandar Abbas, kota Iran yang menghadap langsung ke Selat Hormuz.
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Perairan sempit ini menjadi pintu keluar penting bagi ekspor minyak dari Teluk. Setiap eskalasi di sana cepat menjalar ke pasar energi, pelayaran komersial, dan kekhawatiran negara-negara pengimpor minyak, termasuk di Asia.
Presiden AS Donald Trump, menurut BBC, mengatakan Teheran “lebih baik bersikap baik” ketika ditanya soal kemungkinan tenggat sebelum serangan yang lebih luas. Ia juga mengatakan Iran ingin menyelesaikan situasi itu, tetapi Washington masih akan melihat apakah akan memilih penyelesaian atau melanjutkan tekanan militer.
Dari Teheran, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator senior Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Iran tidak punya alasan mematuhi kesepakatan jika tidak mendapat manfaat darinya. Ia menyebut keamanan nasional Iran bergantung pada pengaturan Iran sendiri di kawasan selat tersebut.
Iran juga mengklaim telah menyerang sasaran militer AS di kawasan, termasuk di Bahrain dan Kuwait, menurut laporan media pemerintah yang dikutip BBC. Dalam laporan lain, Iran disebut menargetkan sistem komunikasi dan fasilitas penyimpanan militer AS di Yordania dengan drone. Media pemerintah Yordania menyatakan militernya mencegat delapan drone dan tidak ada korban ataupun kerusakan material.
Al Jazeera pada hari yang sama menurunkan laporan dengan judul bahwa AS melancarkan serangan baru terhadap Iran saat Teheran menargetkan situs-situs Teluk. DW juga melaporkan serangan AS terhadap situs rudal Iran ketika ketegangan meningkat. Dua laporan itu memperkuat gambaran bahwa konflik tidak lagi hanya berada di satu titik, melainkan bergerak di sekitar kawasan Teluk dan jalur pelayaran strategis.
Centcom menyatakan gelombang serangan selama sekitar 90 menit menargetkan pertahanan pesisir serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb. AS juga menyebut telah menembaki sebuah kapal yang berupaya melanggar blokade yang kembali diberlakukan terhadap pelabuhan Iran.
Blokade itu sebelumnya sempat dicabut sebagai bagian dari nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan konflik berbulan-bulan antara kedua negara. Kini, setelah blokade diberlakukan lagi, risiko terhadap kapal dagang ikut naik. Situasinya sensitif karena banyak perusahaan pelayaran biasanya langsung mengubah rute, premi asuransi, atau jadwal pengiriman begitu ada ancaman di perairan Teluk.
Meski serangan berlanjut, ada sinyal diplomatik kecil yang muncul. Trump menyambut pembebasan seorang warga negara AS, Dena Karari, yang disebutnya ditahan secara keliru sejak Desember 2024. Ia menyebut pembebasan itu sebagai gesture niat baik dari Iran.
Namun sinyal itu belum cukup untuk meredakan keadaan. Pernyataan keras dari Washington, ancaman balasan dari Teheran, dan operasi militer di sekitar Selat Hormuz membuat konflik AS-Iran kembali menjadi perhatian utama dunia. Jika serangan meluas ke fasilitas sipil atau jalur energi, dampaknya kemungkinan tidak berhenti di Timur Tengah. Harga minyak, rantai pasok, dan pasar keuangan bisa ikut terguncang.
Untuk Indonesia, perkembangan ini patut dipantau karena harga energi global mudah bergerak saat kawasan Teluk memanas. Pemerintah biasanya tidak hanya melihat sisi diplomatik, tetapi juga dampak terhadap impor minyak, nilai tukar, dan biaya logistik. Selama belum ada gencatan senjata yang jelas, Selat Hormuz akan tetap menjadi titik paling rawan dalam konflik AS-Iran.
Sumber utama
- BBC: US launches fresh strikes on Iran as Trump warns Tehran it better behave (16 Juli 2026)
- Al Jazeera: US launches new attacks on Iran as Tehran targets Gulf sites (16 Juli 2026)
- DW: US strikes Iranian missile sites as tensions escalate (16 Juli 2026)


























