Banda Aceh, InfoPublik – Kebutuhan daging untuk perayaan tradisi Meugang menjelang Idulfitri 2026 di Aceh tahun ini dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi. Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan Aceh terus melakukan pemantauan di berbagai daerah guna memastikan ketersediaan stok ternak serta menjaga stabilitas harga daging di pasaran.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, Senin 16 Maret 2026, mengatakan secara umum kebutuhan daging masyarakat Aceh setiap perayaan Meugang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 ton. Tradisi Meugang yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Aceh selalu menyebabkan lonjakan permintaan daging menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Idul Adha.
Menurutnya, Meugang bukan sekadar kegiatan membeli dan mengonsumsi daging, tetapi juga memiliki makna sosial dan kebersamaan yang kuat. Pada momentum tersebut, masyarakat biasanya memasak hidangan daging untuk dinikmati bersama keluarga sekaligus berbagi dengan kerabat dan tetangga.
“Berdasarkan pantauan dan koordinasi Dinas Peternakan Aceh di lapangan, kebutuhan daging untuk perayaan Meugang Idulfitri tahun ini dipastikan tercukupi dan aman,” ujar Muhammad.
Ia menjelaskan, ketersediaan stok ternak yang tersebar di seluruh wilayah Aceh masih berada pada tingkat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama perayaan Meugang. Data terbaru menunjukkan jumlah sapi yang tersedia mencapai 16.381 ekor dengan estimasi pemotongan sekitar 7.245 ekor menjelang dan pada hari pelaksanaan Meugang Idulfitri.
Selain sapi, masyarakat juga memiliki alternatif sumber daging lain seperti kerbau, kambing, dan domba. Pemerintah mencatat terdapat sekitar 6.929 ekor kerbau serta 17.146 ekor kambing dan domba yang siap memenuhi kebutuhan pasar.
Muhammad menambahkan, keberadaan stok ternak tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan di pasar sehingga masyarakat tetap dapat menikmati tradisi Meugang seperti biasanya.
Terkait harga daging di pasaran, ia mengakui bahwa harga cenderung mengalami fluktuasi menjelang perayaan Meugang. Hal ini merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun karena meningkatnya permintaan masyarakat dalam waktu yang relatif singkat.
“Sebagaimana kita pahami bersama, harga daging sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Ketika permintaan meningkat menjelang Meugang, biasanya terjadi sedikit kenaikan harga dibandingkan hari-hari normal,” jelasnya.
Saat ini harga daging di sejumlah pasar di Aceh berkisar antara Rp150.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Meski terjadi kenaikan dibandingkan harga normal, pemerintah berharap harga tersebut tetap berada dalam batas yang wajar dan tidak memberatkan masyarakat.
Lebih lanjut, Muhammad menyampaikan bahwa Gubernur Aceh telah menginstruksikan dinas terkait untuk terus memantau perkembangan harga di lapangan guna mencegah terjadinya spekulasi harga yang dapat menyebabkan lonjakan secara tidak wajar.
Pemerintah Aceh juga mengimbau para pedagang agar tetap menjaga stabilitas harga dan tidak mengambil keuntungan berlebihan pada momentum Meugang.
“Gubernur berharap para pedagang dapat memperhatikan harga yang layak demi kenyamanan masyarakat luas, sehingga tradisi Meugang dapat dirayakan dengan penuh kebersamaan,” katanya.
Selain melakukan pemantauan harga, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan para peternak dan distributor untuk memastikan distribusi ternak berjalan lancar ke berbagai pasar tradisional di Aceh.
“Apabila ada informasi terbaru terkait perkembangan stok maupun harga daging menjelang Meugang Idulfitri, tentu akan segera kami sampaikan kepada teman-teman media,” pungkas Muhammad.[]






















