Dukungan moral datang dari Pemerintah Daerah Administrasi Hong Kong. Melalui Social Workers Across Borders Hong Kong, Rainbow Public Welfare China, dan Peaceland Foundation China, bekerja sama dengan Yayasan Pelangi Kesejahteraan Masyarakat (YPKM), mereka menyemangati anak-anak serta mengunjungi rumah korban banjir di Gampong Dayah Usen, Meurah Dua, Pidie Jaya, Sabtu, 23 Mei 2026.
Tiba di lokasi, tim relawan langsung menyambangi anak-anak yang sudah berkumpul di meunasah gampong setempat. Hujan lebat yang mengguyur Pijay pada Sabtu sore tidak melunturkan semangat anak-anak untuk berbaur bersama rombongan yang dinanti dengan rasa penasaran.
Suasana tampak meriah. Seakan terlupakan kejadian pilu yang pernah menimpa mereka, anak-anak larut dalam ragam permainan yang dipandu oleh tim khusus.



Waktu terasa begitu singkat. Kegiatan selama dua jam terasa tidak cukup, sementara antusiasme masih memancar di wajah lugu anak-anak yang seakan ingin mengulang setiap permainan.
Aura bahagia juga terlihat dari Candy Zhou, Director Social Workers Across Borders Hong Kong, Zhang Yupu, Chairman Rainbow Public Welfare China, dan Xu Jingxia, Director Peaceland Foundation China.
Begitupun dengan Saaduddin atau akrab disapa Apa A’t, terlihat mondar-mandir larut dalam kerumunan anak-anak.
Kedatangan tim kemanusiaan mendapat sambutan hangat dari Geuchik Gampong Usen, Zulbahri, beserta perangkat gampong.
Usai bersama anak-anak, rombongan berinisiatif mengunjungi beberapa rumah warga yang berdekatan dengan lokasi kegiatan.
Kondisi rumah yang semrawut akibat dihantam banjir bertubi-tubi membuat suasana sedikit mengerut kening, namun keceriaan tidak berubah. Kelakar dengan gaya plesetan lucu bahasa China yang di-Aceh-kan membuat suasana semakin hidup.
Meskipun tidak saling memahami dalam percakapan, dengan sedikit dipandu oleh juru bahasa, kunjungan orang luar negeri itu berlangsung hingga ke dapur warga.
Tidak segan-segan, para tamu bahkan ada yang ikut memasak bersama tuan rumah.
Dalam beberapa sesi dialog ringan dengan warga, terungkap bahwa setelah banjir anak-anak sempat tidak sekolah dalam waktu lama karena sekolah tempat mereka belajar rusak parah diterjang banjir. “Trep hana ijak sikula aneuk miet nyoe,” tutur salah seorang warga dalam bahasa Aceh.
Tumpukan tanah sisa banjir menjadi isyarat bahwa anak-anak telah lama hidup dalam suasana yang tidak layak bagi usia mereka.
Sebagai informasi, Gampong Usen adalah salah satu gampong yang terparah diterjang banjir di Pidie Jaya pada penghujung tahun 2025 silam. []





























