Banda Aceh, 10 Agustus 2026 – Pasar emas memasuki awal pekan dengan nada lebih kuat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat yang lemah menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dua faktor itu biasanya menjadi bahan bakar penting bagi emas, karena logam mulia tidak memberi bunga dan dihargai dalam dolar.
Laporan Kitco pada Jumat malam menyebut spot emas diperdagangkan di sekitar US$4.340,60 per troy ounce, naik 2,39% pada sesi tersebut. Perak juga menguat ke sekitar US$63,350 per ounce. Pemicu utamanya datang dari laporan payrolls Juli AS yang turun 23.000 pekerjaan, sementara tingkat pengangguran bertahan di sekitar 4,1%.

Data itu mengubah cara pasar membaca arah The Federal Reserve. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Namun angka tenaga kerja yang lemah membuat pelaku pasar lebih hati-hati memperkirakan ruang kenaikan suku bunga berikutnya. Kitco mencatat yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat bergerak turun ke area 4,6%, sedangkan dolar melemah setelah data tersebut keluar.
Data pasar yang diakses melalui Yahoo Finance pada Senin pagi WIB menunjukkan kontrak berjangka emas COMEX Desember 2026 berada di sekitar US$4.394 per troy ounce. Indeks dolar AS berada di sekitar 99,63, lebih rendah dari penutupan sebelumnya, sementara yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,66%. Angka ini bergerak cepat dan dapat berubah sepanjang sesi perdagangan.
Bagi emas, kombinasi dolar yang lebih lemah dan yield yang turun membuat biaya peluang memegang logam mulia ikut berkurang. Jika investor mulai menilai The Fed tidak punya ruang besar untuk kembali agresif, minat terhadap aset lindung nilai seperti emas biasanya bertahan. Namun reli emas kali ini tidak berdiri sendiri. Harga minyak WTI juga bergerak di sekitar US$78 per barel, dengan pasar masih membaca risiko geopolitik dan jalur pasokan energi di Timur Tengah.
Untuk pasar domestik, pergerakan emas global tetap perlu dibaca bersama kurs rupiah dan biaya distribusi lokal. Kenaikan harga internasional tidak selalu langsung sama besar di harga ritel Indonesia, tetapi arah global biasanya menjadi rujukan utama bagi pedagang dan konsumen yang memantau harga harian.
Risiko terbesar untuk emas pekan ini ada pada data ekonomi AS berikutnya dan komentar pejabat The Fed. Jika data inflasi kembali panas atau pejabat bank sentral memberi sinyal suku bunga lebih ketat, dolar dan yield bisa pulih lalu menahan kenaikan emas. Sebaliknya, jika data AS terus melemah, pasar kemungkinan tetap memberi ruang bagi emas untuk menguji level yang lebih tinggi.
Sumber data: Kitco NewsWire, Yahoo Finance chart endpoint, dan Google News RSS yang diakses pada 10 Agustus 2026 pagi WIB.


























