WASHINGTON – Perang Iran-AS meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dan tekanan inflasi yang dapat menjalar ke berbagai negara. Meski data resmi terbaru belum menunjukkan lonjakan pengangguran di Amerika Serikat, dampak ekonomi berpotensi meluas jika konflik berlangsung lama atau mengganggu jalur energi global.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada Jumat, 5 Juni 2026, tingkat pengangguran bertahan di 4,3 persen pada Mei. Jumlah penganggur tercatat sekitar 7,3 juta orang dan tidak berubah signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Penggajian nonpertanian juga masih bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei, mendekati kenaikan April yang direvisi menjadi 179.000. Data itu menunjukkan pasar kerja AS tetap menciptakan lapangan kerja, meski kondisi di sejumlah sektor tidak merata.
Belum Ada Bukti Perang Menambah Pengangguran
Data pekerjaan terbaru belum menunjukkan bahwa konflik Iran-AS telah menyebabkan kenaikan pengangguran secara luas. BLS menyebut tingkat pengangguran berada dalam rentang sempit antara 4,3 persen dan 4,5 persen sejak Juli 2025.
Lapangan kerja bertambah di sektor rekreasi dan perhotelan, pemerintahan daerah, serta layanan kesehatan. Sebaliknya, sektor keuangan kehilangan sekitar 22.000 pekerjaan pada Mei. Lapangan kerja transportasi dan pergudangan relatif tidak berubah, tetapi telah turun 92.000 dari puncaknya pada Februari 2025.
Meski angka utama stabil, tekanan jangka panjang tetap terlihat. Jumlah penganggur selama 27 minggu atau lebih mencapai 2 juta orang, naik 524.000 dibandingkan setahun sebelumnya. Kelompok ini mencakup 27,5 persen dari seluruh penganggur di AS.
Risiko Pertama Berpotensi Muncul dari Energi
Dampak ekonomi dari konflik geopolitik biasanya tidak langsung muncul dalam data pengangguran. Gangguan terhadap produksi atau jalur pengiriman minyak dapat terlebih dahulu menaikkan biaya bahan bakar, transportasi, dan logistik. Kenaikan biaya tersebut berpotensi mendorong inflasi serta mengurangi belanja konsumen.
Jika tekanan bertahan, perusahaan yang menghadapi biaya lebih tinggi dan permintaan yang melemah dapat menunda perekrutan atau mengurangi tenaga kerja. Namun, hubungan tersebut belum dapat disimpulkan dari data Mei karena laporan terbaru hanya menggambarkan kondisi pasar kerja sebelum seluruh dampak konflik tercermin dalam kegiatan ekonomi.
Ekonomi AS Masih Tumbuh, tetapi Belum Kebal
Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) memperkirakan produk domestik bruto riil tumbuh pada tingkat tahunan 1,6 persen pada kuartal pertama 2026. Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan 0,5 persen pada kuartal keempat 2025.
Konsumsi pribadi meningkat 0,5 persen pada April, tetapi pendapatan yang dapat dibelanjakan turun 0,1 persen dan tingkat tabungan pribadi berada di 2,6 persen. Kondisi ini menunjukkan rumah tangga masih berbelanja, tetapi memiliki bantalan yang terbatas jika harga energi dan kebutuhan sehari-hari kembali meningkat.
Dengan demikian, belum ada dasar data untuk menyatakan perang Iran-AS telah meningkatkan pengangguran AS. Indikator yang perlu dipantau berikutnya adalah harga minyak, klaim tunjangan pengangguran mingguan, perekrutan perusahaan, inflasi, dan belanja konsumen. BLS dijadwalkan merilis laporan ketenagakerjaan Juni pada 2 Juli 2026.
Sumber: U.S. Bureau of Labor Statistics dan U.S. Bureau of Economic Analysis.
Catatan redaksi: Featured image merupakan ilustrasi editorial buatan AI, bukan foto dokumentasi konflik atau peristiwa nyata.




























