JAKARTA – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali naik setelah sebuah tanker dilaporkan diserang di Selat Hormuz, Selasa (21/7/2026), pada saat Washington melanjutkan serangan udara terhadap target-target Iran untuk malam ke-10 berturut-turut.
Associated Press melaporkan awak kapal tanker itu terpaksa meninggalkan kapal setelah serangan di perairan strategis tersebut. Jalur itu bukan sekadar titik konflik militer. Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi salah satu urat nadi energi dunia karena sebagian besar perdagangan minyak mentah dan gas alam melewati kawasan sempit antara Iran dan Oman itu.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru menyasar pusat komando militer Iran, kemampuan maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara. Pernyataan itu muncul ketika lalu lintas kapal di Hormuz disebut melambat tajam akibat risiko serangan dan peringatan keamanan yang terus bergulir.
Al Jazeera, mengutip laporan dari lapangan dan pernyataan Gedung Putih, menyebut serangan AS berlanjut pada Selasa dini hari dan ledakan dilaporkan di Qeshm Island, Bandar Abbas, Bandar Lengeh, Shiraz, serta Bushehr. Gedung Putih mengatakan operasi akan terus berjalan sampai Presiden Donald Trump memutuskan sebaliknya, meski jalur pembicaraan diplomatik disebut masih terbuka.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim terjadi kebakaran besar pada dua tanker yang mencoba melewati rute selatan Selat Hormuz. Klaim militer dari kedua pihak belum semuanya dapat diverifikasi secara independen, tetapi dampaknya pada pelayaran sudah terasa: kapal-kapal komersial menghadapi pilihan sulit antara menunggu, memutar, atau mengambil risiko melintas di jalur yang makin panas.
Situasi ini membuat pasar energi ikut gelisah. AP mencatat harga minyak Brent diperdagangkan di atas 88 dolar AS per barel pada Selasa, sementara harga bensin reguler di Amerika Serikat naik ke kisaran 4 dolar AS per galon. Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk banyak negara di Asia, gangguan panjang di Hormuz dapat cepat berubah menjadi tekanan pada ongkos logistik dan harga bahan bakar.
Yang membuat krisis ini lebih berbahaya adalah meluasnya arena serangan. Iran disebut menargetkan kepentingan militer Amerika dan sekutunya di kawasan Teluk. Laporan Al Jazeera memuat klaim IRGC mengenai serangan ke aset AS di Bahrain dan Kuwait. AP juga melaporkan Yordania menembak jatuh tiga rudal Iran, sementara Bahrain mengecam serangan drone yang disebut mengancam sistem lalu lintas udara sipil.
Washington juga menghadapi tekanan politik di dalam negeri setelah kematian dan cedera personel militer AS. Presiden Trump memperingatkan bahwa setiap kematian tentara Amerika akan dibalas “berkali-kali lipat”. Pernyataan seperti itu mempersempit ruang manuver diplomasi, walau Iran pada saat yang sama mengirim menteri dalam negerinya ke Pakistan, salah satu negara yang berperan sebagai mediator.
Kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu untuk meredakan perang kini terlihat rapuh. Serangan beruntun, klaim balasan, serta ancaman terhadap pelayaran membuat krisis tak lagi hanya menjadi urusan Washington dan Teheran. Jika Hormuz terus terganggu, dampaknya bisa terasa di pelabuhan, pom bensin, pasar komoditas, sampai anggaran rumah tangga jauh dari Timur Tengah.
Untuk saat ini, sinyal paling jelas justru datang dari laut: kapal-kapal bergerak lebih pelan, risiko asuransi meningkat, dan satu serangan baru cukup untuk mengguncang pasar. Diplomasi masih disebut berjalan, tetapi di Selat Hormuz, suara ledakan lebih cepat terdengar daripada hasil perundingan.




























