JINAN — Forum Paralel Bantuan Kemanusiaan dan Kerja Sama Internasional dalam rangkaian Konferensi Masyarakat Sipil Asia-Pasifik digelar di Jinan, Provinsi Shandong, China, pada 3 September.
Forum ini diselenggarakan oleh Komite Khusus Bantuan Kemanusiaan Chinese NGO Network for International Exchanges (CNIE). Pelaksanaannya didukung Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Shandong, Beijing Pinglan Charity Foundation, Beijing Yixing Public Welfare Information Exchange Service Center, dan Federasi Layanan Sukarela Provinsi Shandong.
Mengusung tema “Konektivitas Antarmasyarakat, Membangun Ketangguhan Bersama”, forum dihadiri sekitar 80 peserta dari negara-negara Asia-Pasifik. Mereka terdiri atas perwakilan organisasi masyarakat sipil, pimpinan lembaga penyelamatan, serta para pakar dan akademisi.
Wakil Sekretaris Jenderal CNIE, Xiao Ningning; Wakil Sekretaris Komite Liga Pemuda Komunis Provinsi Shandong sekaligus Wakil Ketua Federasi Layanan Sukarela Provinsi Shandong, Sheng Xia; serta Direktur Eksekutif Lembaga Nahdlatul Ulama Indonesia, Kalilo, hadir dan menyampaikan pidato. Forum dipandu Ketua Dewan Pengurus Beijing Pinglan Charity Foundation, Wang Ke.
Diskusi berfokus pada penyelamatan darurat lintas batas, layanan kesehatan dasar dan kesejahteraan kemanusiaan, serta pembangunan mekanisme kerja sama kemanusiaan masyarakat sipil. Peserta membahas jalur baru kerja sama kemanusiaan nonpemerintah di kawasan Asia-Pasifik.

Platform Kemanusiaan yang Terbuka dan Inklusif
Dalam sambutannya, Xiao Ningning mengatakan negara-negara Asia-Pasifik perlu berpegang pada keterbukaan dan keterhubungan serta menolak sikap tertutup dan eksklusif. Ia juga menekankan pentingnya inovasi sebagai penggerak untuk meningkatkan ketangguhan tanggap darurat.
Menurutnya, kesejahteraan masyarakat harus menjadi dasar, disertai tanggung jawab sosial bersama. Ia mendorong pembangunan platform kerja sama kemanusiaan masyarakat sipil yang terbuka dan inklusif, sehingga sumber daya kemanusiaan dapat dialokasikan secara efisien di kawasan Asia-Pasifik.
Sheng Xia menyatakan Shandong bersedia menjalankan program layanan sukarela internasional bersama organisasi relawan di kawasan Asia-Pasifik. Tujuannya membangun tatanan baru kerja sama dan pertukaran layanan sukarela yang menghubungkan aktor domestik dengan mitra internasional secara terstandar dan profesional.
Kalilo mengatakan bantuan kemanusiaan bukan sekadar retorika diplomatik yang abstrak, melainkan bentuk tolong-menolong antartetangga yang melintasi lautan. Ia menyebut Indonesia dan China tengah memilih jalan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara bersama dan bertanggung jawab.
Seruan Bersama China-Nepal untuk Penanganan Bencana
Dalam forum tersebut, 12 lembaga China bersama Federasi Organisasi Nonpemerintah Nepal menyampaikan Seruan Kolaborasi Kekuatan Masyarakat Sipil China-Nepal untuk Penanggulangan Bencana. Seruan itu merespons bencana tanah longsor dan aliran lumpur parah di kawasan perbatasan Pelabuhan Gyirong, Tibet, China, dan Pelabuhan Rasuwagadhi, Nepal.
Lembaga-lembaga yang terlibat mencakup College of International Development and Global Agriculture Universitas Pertanian China, China Foundation for Rural Development, Amity Foundation, Yunnan Blue Sky Rescue International Cooperation Center, Beijing Yixing Public Welfare Information Exchange Service Center, Zhuoming Disaster Information Service Center, Beijing Pinglan Charity Foundation, Guangzhou Renhuai Social Work Service Center, Changshu Emergency Volunteer Association, Beijing Hengshan Charity Foundation, Gansu Rainbow Volunteer Association, dan Sichuan Haihui Poverty Alleviation Service Center.
Seruan itu mengajak kekuatan kemanusiaan masyarakat sipil untuk melangkah maju dan bertindak aktif, berkoordinasi dengan instansi terkait dalam pengaturan dan penjadwalan bantuan. Bantuan kemanusiaan internasional diminta dijalankan sesuai kebutuhan nyata di lapangan, disertai mekanisme berbagi informasi dan donasi barang secara timbal balik, agar warga terdampak dapat melewati masa sulit.

Tiga Dialog Meja Bundar
Pada dialog meja bundar bertema “Penyelamatan Darurat Lintas Batas serta Pembangunan Kapasitas Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana”, sejumlah pimpinan organisasi penyelamatan dari China dan luar negeri berbagi pengalaman lapangan serta studi kasus nyata.
Dalam dialog “Layanan Kesehatan Dasar dan Bantuan Kesejahteraan Kemanusiaan di Asia-Pasifik”, sejumlah lembaga memaparkan praktik di bidang bantuan medis, perhatian kepada kelompok rentan, dan program kesejahteraan berbasis komunitas.
Sementara pada dialog “Inovasi Kerja Sama Kemanusiaan Masyarakat Sipil dan Mekanisme Kolaborasi Jangka Panjang”, para peserta sepakat bahwa kerja sama kemanusiaan tidak boleh berhenti pada koordinasi sementara setelah bencana. Kerja sama itu harus diperkuat melalui kolaborasi profesional, koordinasi kawasan, pembangunan kapasitas, dan pembangunan mekanisme.



Lima Proyek Kerja Sama Ditandatangani
Forum juga menjadi ajang penandatanganan lima kelompok proyek kerja sama antara organisasi masyarakat sipil China dan mitra asing. Kelima proyek itu mencakup bidang bantuan medis, pelestarian ekologi, keamanan air minum, dan kesiapsiagaan darurat berbasis komunitas.
- Program bakti sosial kesehatan mata “Brightness Action” di Kamboja
- Proyek perlindungan ekosistem lahan basah Lancang-Mekong–Danau Tonle Sap
- Proyek penampungan air “Silk Road Rainbow” di Indonesia
- Proyek bantuan pembangunan kapasitas tanggap darurat komunitas di Mauritius
- Proyek kerja sama penguatan kapasitas tanggap darurat organisasi nirlaba China-Kenya

Dari Bantuan Satu Arah Menuju Kemitraan Setara
Para peserta dari China dan luar negeri sepakat bahwa organisasi masyarakat sipil memiliki respons cepat, mekanisme yang fleksibel, dan akar yang kuat di tingkat komunitas. Karena itu, organisasi masyarakat sipil dinilai sebagai kekuatan penting dalam mendorong bantuan kemanusiaan dan kerja sama internasional di Asia-Pasifik.
Mereka menekankan kerja sama kemanusiaan harus berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat setempat, dengan mendorong penyesuaian lokal dan akumulasi kapasitas. Kesiapan juga harus dibangun sebelum bencana terjadi, memadukan kondisi normal dan darurat, melalui pelatihan bersama, simulasi, dan pembangunan jejaring secara rutin.
Peserta juga mendorong peralihan dari pola pemberian satu arah menjadi kemitraan yang setara, sehingga bantuan berubah menjadi kemampuan pengembangan diri yang berkelanjutan di tingkat lokal. Selain itu, kolaborasi multipihak dinilai perlu untuk membangun rantai lengkap yang mencakup penyelamatan, pemulihan, dan penguatan ketangguhan.
Forum ini diharapkan menjadi momentum untuk memperdalam kerja sama praktis masyarakat sipil Asia-Pasifik di bidang penyelamatan darurat, layanan kesehatan dasar, bantuan kesejahteraan, serta pencegahan dan pengurangan risiko bencana, sebagai kontribusi bagi pembangunan komunitas Asia-Pasifik.
Diterjemahkan secara lengkap ke bahasa Indonesia dari artikel “亚太民间社会会议人道援助与国际合作平行论坛在济南举办” yang diterbitkan akun WeChat 中促会民间交流. Penyuntingan terbatas dilakukan untuk kelancaran bahasa Indonesia tanpa mengubah substansi. Sejumlah nama lembaga dan tokoh merupakan alih bahasa dari penyebutan dalam naskah asli.
Sumber: WeChat — 中促会民间交流



















