Banda Aceh — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh mencatat transaksi dan realisasi ekspor sebesar Rp7,98 miliar dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Capaian tersebut meningkat sekitar 400 persen dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang keikutsertaan UMKM binaan BI Aceh dalam KKI.
Plh. Kepala Perwakilan BI Aceh, Hertha Bastiawan, mengatakan capaian Rp7,98 miliar tersebut berasal dari penjualan secara luring sebesar Rp626,70 juta, penjualan melalui kanal daring Rp2,86 miliar, serta realisasi ekspor yang mencapai Rp4,50 miliar.
Ia menyebut capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya akses pasar yang dapat dimanfaatkan UMKM Aceh, baik melalui pasar langsung, platform digital, maupun pasar ekspor.
“KKI 2026 ini menjadi salah satu momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam mendorong UMKM untuk meningkatkan kapasitas, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing produk unggulan daerah,” ujar Hertha, Kamis (27/8/2026).
Pada KKI tahun ini, UMKM Aceh menampilkan beragam produk unggulan daerah, mulai dari wastra, fesyen, kriya hingga kopi. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar produk lokal Aceh, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga hingga pasar global.
Hertha menilai peningkatan transaksi tersebut mencerminkan semakin kuatnya daya saing produk UMKM Aceh. Menurutnya, produk lokal tidak cukup hanya memiliki keunggulan dari sisi kualitas dan kekhasan, tetapi juga perlu didukung inovasi, penguatan merek, digitalisasi, serta akses pasar yang berkelanjutan.
Capaian UMKM Aceh dalam KKI 2026 juga ditandai dengan prestasi pada sejumlah kategori. Werkin Tandem meraih predikat UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada Area Rupa Kini. Sementara PT Melaya Kopi menjadi UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada kategori Pesona Kopi Nusantara KKI Online.
Prestasi tersebut memperlihatkan potensi produk unggulan Aceh untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Wastra, fesyen, kriya, dan kopi tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Untuk menjaga momentum tersebut, BI Aceh berkomitmen memperkuat pengembangan UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, inovasi dan kualitas produk, digitalisasi, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta fasilitasi menuju pasar ekspor.
“Sinergi dengan Pemerintah Daerah, Perbankan, Dunia Usaha, Komunitas, dan Pemangku Kepentingan lainnya akan terus diperkuat guna membangun ekosistem UMKM Aceh yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Hertha.
KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Bagi UMKM Aceh, capaian Rp7,98 miliar tersebut menjadi indikator semakin terbukanya peluang bagi produk daerah untuk menembus pasar nasional hingga global. []
Sumber : infopublik.id























