Presiden Donald Trump dilaporkan mengirim syarat yang lebih keras kepada Iran dalam pembahasan kerangka perdamaian. The New York Times melaporkan bahwa perubahan syarat itu muncul saat proses diplomasi masih berjalan dan belum mencapai keputusan akhir.
Langkah tersebut menunjukkan Gedung Putih belum sepenuhnya puas dengan rancangan yang dibahas para utusan. Axios juga melaporkan Trump meminta revisi terhadap deal Iran yang telah dinegosiasikan oleh utusannya.
Syarat yang lebih keras dapat memperkuat posisi tawar AS, tetapi juga berisiko membuat Iran semakin berhati-hati atau menolak hasil negosiasi. Dalam diplomasi krisis, perubahan pada tahap akhir sering kali menjadi titik rawan.
Kondisi ini membuat prospek kesepakatan AS-Iran tetap terbuka, namun belum aman. Pasar energi, keamanan Selat Hormuz, serta posisi Israel dan negara-negara Teluk akan ikut memantau arah pembicaraan tersebut.
Sumber berita: The New York Times, Axios, Google News feed, 31 Mei 2026.
Catatan redaksi: Featured image menggunakan foto nyata berlisensi/arsip publik sebagai ilustrasi berita, bukan gambar hasil AI.





























