WASHINGTON, 23 April 2026 (kutarajapost) – Dugaan skandal manipulasi data korban yang menjerat Pentagon ini menimbulkan kesamaan mencolok dengan praktik yang sering dituduhkan dilakukan oleh militer Israel.
Sebagaimana sering terjadi dalam konflik di Gaza dan wilayah lain, di mana angka korban yang diumumkan resmi sering dianggap jauh lebih rendah dibandingkan data dari pihak medis dan pengamat independen, kini pola serupa terlihat terjadi pada pihak Amerika Serikat.
Sebuah laporan mengungkap bahwa Kementerian Pertahanan AS diduga secara sistematis memperkecil jumlah prajurit yang tewas dan terluka dalam perang melawan Iran. Tindakan ini disebut sebagai “casualty cover-up” atau penyembunyian korban yang dilakukan secara terencana.
Padahal, berbagai sumber independen dan laporan lapangan menyebutkan bahwa kerugian manusia sangat signifikan, termasuk kabar sedikitnya 400 tentara AS yang mengalami luka-luka.
Kesamaan pola ini memperkuat dugaan bahwa upaya memanipulasi data kemanusiaan dan militer dilakukan untuk menjaga citra di hadapan publik serta menutupi beratnya kerugian yang dialami di medan pertempuran.
Sumber: Press TV, Quds News Network, dan laporan media investigasi internasional




























