Jakarta – China dinilai memiliki posisi tawar kuat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat karena ekspornya tetap menunjukkan ketahanan meski hubungan dagang kedua negara memburuk.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan China memperluas pasar ke banyak kawasan untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Strategi ini membantu menjaga arus ekspor di tengah tekanan tarif dan pembatasan teknologi.
Kinerja ekspor yang kuat membuat Beijing tidak sepenuhnya berada di posisi defensif. China masih menjadi pusat manufaktur utama dunia, terutama untuk barang elektronik, mesin, kendaraan, dan produk industri.
Namun, ketegangan dagang tetap membawa risiko. Negara tujuan ekspor dapat memperketat kebijakan antidumping atau mendorong relokasi rantai pasok.
Bagi negara berkembang, perubahan pola ekspor China dapat membuka peluang sekaligus tekanan. Beberapa negara mendapat investasi baru, sementara yang lain menghadapi persaingan produk impor murah.
Analis menilai arah hubungan AS-China tetap menjadi salah satu faktor utama yang menentukan stabilitas perdagangan global tahun ini.
Artikel ini disusun ulang dari perkembangan ekonomi global yang dilaporkan media internasional dan lembaga ekonomi terkait.





























