DUBAI — Amerika Serikat kembali menggempur Iran pada Senin dini hari, memperpanjang rangkaian serangan udara menjadi sembilan malam berturut-turut. Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat AS, CENTCOM, mengumumkan seorang prajurit Amerika tewas di Irak saat proses peledakan terkendali terhadap amunisi yang belum meledak dari drone Iran yang dijatuhkan.
Associated Press melaporkan serangan terbaru AS menyasar area di sekitar kota di barat laut Iran yang diyakini terkait dengan basis rudal bawah tanah. Al Jazeera, mengutip pernyataan CENTCOM, menyebut gelombang serangan sekitar pukul 02.00 GMT diarahkan ke pusat komando militer, pertahanan udara, pengawasan pantai, kemampuan maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi Iran.
Washington menyatakan sasaran itu terkait kemampuan Iran menyerang kapal dagang dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi titik paling sensitif dalam krisis sekarang karena menjadi rute utama pengiriman minyak dunia. Ketika lalu lintas kapal tersendat, dampaknya cepat terasa di pasar energi global.
Harga minyak acuan Brent pada Senin dilaporkan naik ke atas US$90 per barel. Kenaikan itu menambah tekanan pada ekonomi global yang sudah terbebani oleh biaya energi dan kekhawatiran gangguan rantai pasok. Di Amerika Serikat, AP mencatat harga rata-rata bensin reguler kembali mencapai US$4 per galon, angka yang secara politik sensitif menjelang pemilu paruh waktu.
Dari pihak Iran, media negara dan semi-resmi melaporkan ledakan di sejumlah wilayah, termasuk Sirik, Jask, Tabriz, Chabahar, Khormoj, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini. Al Jazeera melaporkan pertahanan udara Iran aktif di beberapa kota, sementara kawasan pantai selatan Iran kembali menjadi sasaran utama setelah beberapa hari sebelumnya jembatan, jalur kereta, dan bandara dilaporkan rusak.
Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, mengklaim telah membalas dengan serangan rudal dan drone ke target AS di kawasan. Klaim itu mencakup serangan terhadap pesawat dan hanggar yang menampung pasukan AS di Yordania, fasilitas di Kuwait, serta peringatan keamanan di Bahrain, tempat Armada ke-5 Angkatan Laut AS bermarkas. Sebagian klaim medan perang tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Ketegangan juga merambat ke laut. IRGC menyatakan dua tanker minyak meledak dan terhenti di bagian selatan Selat Hormuz pada Minggu malam. Menurut laporan Tasnim yang dikutip Al Jazeera, Iran memperingatkan bahwa jalur itu tidak aman selama operasi militer AS berlanjut di kawasan. Pernyataan seperti ini langsung dibaca pasar sebagai ancaman terhadap arus minyak dan gas dari Teluk.
Krisis ini makin berbahaya karena kesepakatan sementara yang disebut bertujuan mengakhiri pertempuran bulan lalu praktis runtuh. Kedua pihak kini bergerak dalam pola balas-membalas yang sulit dikendalikan: serangan AS disebut untuk menekan kemampuan militer Iran, sementara Iran membalas lewat target regional yang berhubungan dengan kehadiran Amerika.
Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, perkembangan di Hormuz bukan isu jauh. Gangguan pengiriman dari Teluk dapat memukul harga minyak mentah, ongkos logistik, dan sentimen pasar. Jika harga energi bertahan tinggi, efeknya bisa menjalar ke harga BBM, inflasi impor, dan biaya produksi. Pemerintah di banyak negara biasanya akan memantau dua hal sekaligus: keamanan warga di kawasan dan stabilitas pasokan energi.
Belum ada tanda jelas bahwa Washington dan Teheran siap mundur dalam waktu dekat. Namun ruang diplomasi biasanya justru paling dibutuhkan ketika dua pihak mulai menghitung korban dan biaya ekonomi. Untuk saat ini, fakta paling penting adalah konflik AS-Iran sudah melewati batas perang terbatas di satu lokasi. Ia kini menyentuh Irak, Iran, negara-negara Teluk, Selat Hormuz, dan dompet konsumen melalui harga energi.





























