JAKARTA – Eskalasi perang Amerika Serikat dan Iran kembali bergerak ke titik yang lebih berbahaya. Setelah tujuh malam serangan AS ke wilayah Iran, Teheran dilaporkan memperluas balasan ke sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk. Kuwait ikut terdampak, sementara otoritas Iran menyebut ribuan warga di wilayah selatan kehilangan akses air setelah serangan terbaru.
Al Jazeera melaporkan pada Sabtu, 18 Juli 2026, Kementerian Kesehatan Iran menyatakan serangan AS sejak 6 Juli telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Perusahaan air nasional Iran juga menyebut sekitar 10.000 warga di 20 desa tidak mendapatkan pasokan air setelah serangan semalam. Laporan yang sama menyebut pertukaran serangan antara AS dan Iran masih berlangsung intens, dengan target serangan AS bergerak lebih jauh ke bagian dalam Iran.
Kabar dari Reuters, yang dimuat Al-Monitor, menambah gambaran bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada sasaran militer di Iran. Iran dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap sekutu Washington di Teluk dan Yordania setelah malam ketujuh serangan AS. Kuwait menjadi salah satu titik paling sensitif: sebuah fasilitas desalinasi disebut terkena serangan, dan operasi di Bandara Internasional Kuwait sempat ditangguhkan karena ancaman rudal dan drone berulang.
Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah menyerang pusat dukungan militer AS di Camp Arifjan dan merusak fasilitas radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem. Klaim dari pihak-pihak yang bertikai seperti ini masih perlu dibaca hati-hati, karena verifikasi independen di tengah perang sering tertinggal dari pernyataan resmi. Namun, pola serangan yang menyentuh fasilitas air, bandara, jembatan, dan jalur energi menunjukkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Di sisi Iran, wilayah selatan menjadi sorotan. Bandar Abbas dan Provinsi Hormozgan berada dekat Selat Hormuz, salah satu jalur minyak paling penting di dunia. Al Jazeera dalam analisis terpisah menyebut serangan AS di selatan Iran tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga infrastruktur yang dapat memengaruhi logistik, mobilitas, dan posisi Iran di sekitar Selat Hormuz. Reuters sebelumnya juga melaporkan adanya serangan terhadap jembatan, terowongan jalan, stasiun kereta, serta laporan korban di Bandar Khamir.
Selat Hormuz adalah alasan dunia memperhatikan konflik ini dengan cemas. Jalur sempit itu menghubungkan produsen energi Teluk dengan pasar global. Ketika kapal, pelabuhan, atau fasilitas energi di sekitarnya ikut terancam, dampaknya bisa merembet ke harga minyak, ongkos pengiriman, dan inflasi di banyak negara, termasuk negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Situasi diplomatik juga terlihat memburuk. Dalam video Al Jazeera, penasihat militer senior Iran Mohsen Rezaee memperingatkan bahwa jika pemboman AS terus berlanjut, Iran dapat meningkatkan responsnya menjadi operasi ofensif skala penuh. Ia juga menyebut kebijakan bernegosiasi saat perang sudah berakhir. Pernyataan ini menutup ruang diplomasi setidaknya untuk sementara, walau tekanan ekonomi dan risiko perang regional biasanya tetap memaksa pihak-pihak terkait kembali membuka kanal komunikasi.
Bagi Washington, serangan lanjutan disebut sebagai upaya menekan kemampuan militer Iran dan memberi opsi lebih luas kepada Presiden Donald Trump. Tetapi strategi itu membawa risiko besar. Serangan terhadap infrastruktur di Iran dapat memicu balasan terhadap pangkalan AS, fasilitas energi, atau negara Teluk yang selama ini menjadi mitra keamanan Washington. Kuwait, Qatar, Bahrain, dan negara sekitar Selat Hormuz berada dalam posisi paling rentan jika siklus balas-membalas terus berlanjut.
Untuk publik Indonesia, isu ini bukan sekadar perang jauh di Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz bisa memengaruhi harga energi dunia. Jika harga minyak naik tajam, tekanan bisa terasa pada biaya transportasi, logistik, dan harga barang. Pemerintah Indonesia biasanya akan memantau keselamatan warga negara Indonesia di kawasan Teluk, jalur penerbangan, serta dampak pasar energi jika konflik membesar.
Sampai Sabtu malam waktu Indonesia, belum ada tanda kuat bahwa kedua pihak akan segera menurunkan eskalasi. Justru laporan terbaru menunjukkan medan konflik makin melebar: dari Iran selatan ke fasilitas di Kuwait, dari serangan udara ke ancaman terhadap jalur laut. Titik paling berbahaya sekarang bukan hanya siapa yang menyerang lebih dulu, tetapi apakah salah satu serangan berikutnya mengenai sasaran yang memaksa perang masuk ke tahap yang lebih besar.
Sumber utama: Al Jazeera, Reuters via Al-Monitor.


























