JAKARTA – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran memasuki babak yang lebih berbahaya setelah Washington melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim membalas dengan serangan ke sejumlah sasaran militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian dunia. Jalur laut sempit di dekat Iran itu menjadi rute penting bagi perdagangan energi global. Setiap gangguan di sana bisa langsung terasa ke pasar minyak, ongkos pengiriman, dan kekhawatiran negara-negara pengimpor energi, termasuk di Asia.
BBC melaporkan, militer AS menyebut serangan terbarunya ditujukan untuk menurunkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran di Selat Hormuz. Sasaran yang disebutkan mencakup pusat komando, fasilitas pertahanan udara, dan instalasi pengawasan pantai, termasuk di sekitar Bandar Abbas dan Pulau Greater Tunb.
Dalam laporan yang sama, BBC menyebut ledakan terdengar di sejumlah wilayah Iran. Media pemerintah Iran melaporkan sistem pertahanan udara aktif di Teheran. Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan sebuah pusat perawatan kanker anak di Ahvaz sempat dievakuasi setelah serangan mengenai lokasi di dekatnya.
Al Jazeera, mengutip laporan media Iran dan keterangan otoritas setempat, melaporkan serangan AS terbaru mengenai sejumlah jembatan, sebuah stasiun kereta, dan lokasi lain di Iran selatan. Kementerian Energi Iran menyatakan jaringan listrik di Bandar Abbas dan beberapa desa sekitar mengalami kerusakan, meski pasokan mulai dipulihkan di sebagian wilayah.
Teheran kemudian mengklaim meluncurkan gelombang balasan baru terhadap basis dan fasilitas yang dikaitkan dengan AS di kawasan. Menurut Al Jazeera, Iran menyebut serangan atau upaya serangan terjadi terhadap sasaran di Bahrain, Qatar, Oman, Kuwait, Yordania, dan Suriah. Sejumlah negara Teluk melaporkan pencegatan proyektil atau drone, sementara otoritas Qatar menyatakan seorang anak terluka akibat serpihan setelah intersepsi di atas Doha.
BBC juga melaporkan Kuwait mengaku mencegat serangan drone, sedangkan Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara dan meminta warga tetap tenang serta menuju lokasi aman. Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya menembak jatuh beberapa rudal yang disebut mengarah ke wilayahnya.
Di tengah saling serang itu, jalur pelayaran menjadi isu paling sensitif. AS sebelumnya kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. BBC Verify melaporkan Washington juga menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Curacao yang disebut menuju terminal minyak Kharg setelah mengabaikan beberapa peringatan. Kapal itu dilaporkan tidak sedang membawa muatan ketika insiden terjadi.
Iran merespons dengan memperingatkan bahwa jalur ekspor minyak dan gas yang melayani kepentingan AS serta sekutunya bisa ikut terdampak. Pernyataan itu tidak merinci rute mana yang dimaksud, tetapi pasar biasanya langsung membaca ancaman semacam ini dalam konteks Hormuz.
Selat Hormuz bukan sekadar titik militer. Ia adalah urat nadi energi. Ketika kapal-kapal mengurangi lintasan atau perusahaan pelayaran menaikkan premi risiko, efeknya bisa menjalar ke harga minyak mentah, biaya logistik, dan inflasi. Karena itu, eskalasi AS-Iran tidak hanya menjadi urusan Washington dan Teheran, tetapi juga negara-negara yang bergantung pada stabilitas perdagangan energi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan Iran agar kembali ke meja perundingan dan mengatakan Teheran harus “berperilaku baik” jika ingin menghindari tindakan militer lanjutan. Di sisi lain, pejabat Iran menyatakan negaranya tidak punya alasan mematuhi kesepakatan yang dianggap tidak menguntungkan, terutama jika menyangkut keamanan nasional di Selat Hormuz.
Untuk saat ini, belum terlihat jalur cepat menuju de-eskalasi. Kedua pihak masih menampilkan tekanan militer sebagai alat tawar. Masalahnya, semakin banyak negara di kawasan ikut terdampak, semakin besar pula risiko salah hitung. Satu proyektil yang lolos, satu kapal yang terkena, atau satu korban sipil baru bisa mengubah perang terbatas menjadi krisis regional yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Sumber utama: BBC, Al Jazeera, Reuters/CENTCOM via agregasi berita Google News.



























