kutarajapost.com – Kenaikan harga minyak goreng dan plastik dalam dua pekan terakhir membuat pelaku UMKM di Magetan, Jawa Timur, kian terhimpit. Biaya produksi yang membengkak memaksa mereka mengambil langkah sulit, mulai dari menaikkan harga hingga mengurangi ukuran produk.
Kondisi ini tak hanya dirasakan pelaku usaha rumahan, tetapi juga pedagang gorengan yang sangat bergantung pada minyak goreng sebagai bahan utama.
1. Harga MinyaKita dijual di atas HET
Harga Minyak goreng MinyaKita dijual di atas HET.
Minyak goreng subsidi MinyaKita kini dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Di sejumlah pasar, harga per liter mencapai Rp20 ribu hingga Rp22 ribu.
Seorang pedagang sembako di Pasar Sayur Magetan menyebut, kenaikan harga sudah terjadi hampir dua pekan terakhir.
“Harga MinyaKita naik dari Rp195 ribu per karton isi 12 menjadi Rp230 ribu. Kami jual eceran Rp20 ribu sampai Rp21 ribu,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Selain MinyaKita, minyak goreng kemasan non-subsidi juga ikut naik. Sementara minyak curah juga ikut naik meski kecil. Kenaikan ini diduga dipicu oleh melonjaknya harga plastik di pasar global serta dampak situasi geopolitik dunia.
2. Pedagang gorengan dan UMKM terpukul
Dampak harga minyak goreng mahal, pedagang tahu goreng di Magetan kecilkan ukuran.
Kenaikan harga bahan baku langsung memukul pelaku usaha kecil. Parmiati, pedagang tahu goreng, mengaku tak berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Sebagai solusi, ia memilih mengecilkan ukuran dagangan.
“Bahan baku seperti kedelai juga naik, ditambah minyak goreng mahal. Jadi serba sulit,” keluhnya.
Pelaku UMKM lain seperti produsen kerupuk juga mengalami hal serupa. Mereka terpaksa menaikkan harga meski berisiko ditinggalkan pembeli.
“Kalau tidak naik, kami rugi. Bahkan untuk balik modal saja sulit,” ujar Suparno salah satu pelaku usaha krupuk puli.
3. Harga plastik melonjak hingga 50 persen
Tak hanya minyak goreng, harga plastik juga mengalami lonjakan signifikan, yakni 30 hingga 50 persen tergantung jenisnya. Santi, pedagang plastik di Pasar Baru Magetan, mengatakan kenaikan tertinggi terjadi pada plastik bening non-daur ulang.
“Plastik gula atau kopi dari Rp34 ribu per kilogram sekarang jadi Rp58 ribu. Harganya bisa berubah harian, bahkan per jam,” jelasnya.
Kenaikan ini berdampak langsung pada turunnya daya beli masyarakat. Banyak pembeli kini mengurangi jumlah pembelian. “Biasanya beli satu kilogram, sekarang jadi setengahnya saja,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga, serta kondisi global segera membaik agar aktivitas ekonomi kembali normal. “Semoga harga-harga bisa segera turun dan kami bisa usaha dengan lebih tenang,” pungkasnya.































