Banda Aceh – Linka yang merupakan akronim dari Laboratorium Inovasi Kebijakan Aceh, lahir untuk mewujudkan inovasi para peserta didik agar tidak terhenti di ruang-ruang presentasi sebagai sebuah pra syarat kelulusan pendidikan dan pelatihan.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Aceh Marthunis, di sela-sela pertemuan Mitigasi Bencana dengan perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Aceh, di Aula BPSDM Aceh, Kamis 23 April 2026.
“Linka adalah Laboratorium Inovasi Kebijakan Aceh untuk mewujudkan Aceh yang Islami, Maju, Bermartabat dan Berkelanjutan, sesuai visi Misi Gubernur dan Wakil Gubernur kita,” ujar Marthunis.
Marthunis menjelaskan, Linka dibentuk di BPSDM merupakan institusi yang mempunyai tugas untuk mengembangkan kompetensi ASN. Salah satu kegiatan BPSDM adalah Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan yang outputnya adalah proyek perubahan atau aktualisasi untuk pelatihan dasar.
“Selama ini, para peserta pelatihan menyusun dan merumuskan proyek perubahan atau inovasi. Tentu sangat disayangkan jika inovasi tersebut hanya sebatas untuk menyelesaikan pelatihan. Berdasarkan penilaian kita, banyak sekali inovasi ASN kita itu sangat layak diangkat menjadi sebuah kebijakan yang inovatif,” kata mantan PJ Bupati Aceh Singkil itu.
Karena itu, Linka hadir agar embrio dari inovasi para peserta didik bisa dikurasi sehingga bisa diformulasikan sebagai sebuah kebijakan yang inovatif, yaitu kebijakan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembangunan,” sambung Marthunis.
Dengan Linka, sambung Marthunis, maka berbagai inovasi para peserta didik dapat dimatangkan, hingga nantinya menjadi sebuah kebijakan yang aplikatif dan berdayaguna bagi penyelenggaraan program pemerintahan yang outputnya tentu saja untuk kesejahteraan masyarakat.
Linka Siap Gandeng Profesional, Akademisi hingga BRIN
Untuk memperkuat berbagai upaya Linka dalam merumuskan inovasi para peserta didik menjadi sebuah kebijakan yang aplikatif, maka BPSDM akan menggandeng profesional, akademisi hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Karena ini merupakan upaya kolaboratif lintas sektor, maka untuk memperkuat kerja-kerja Linka, kita tidak hanya kerjasama dengan SKPA terkait, tetapi juga dengan profesional, akademisi bahkan BRIN. Pada prinsipnya, untuk menghasilkan sebuah inovasi kebijakan, maka siapa saja yang berkontribusi dan ingin berkontribusi tentu akan kita ajak untuk berada di dalam Linka,” ungkap Marthunis.
Refleksi Bencana Hidrometerologi
Pada kesempatan tersebut, Marthunis menjelaskan, hari ini Linka menggelar pertemuan dengan Badan Penanggulangan Bencana Aceh untuk berdiskusi dan mengidentifikasi apa saja upaya pembenahan menyeluruh agar Aceh lebih tahan dan tangguh bencana.
“Sesuai dengan fokus Pemerintah Aceh di tahun 2027 terkait upaya menjadikan Aceh sebagai daerah yang tanggap dan tangguh bencana, maka hari ini kita menggelar pertemuan dengan BPBA hari ini. Di sisi BPSDM sendiri, pertemuan ini juga penting untuk mendapatkan informasi pengembangan kompetensi apa saja yang dibutuhkan oleh ASN agar ke depan kita benar-benar tanggap dan tangguh bencana,” kata Marthunis.
“Karena itu, bencana hidrometereologi tahun lalu tentu menjadi refleksi bagi kita untuk mengidentifikasi berbagai upaya pengembangan kompetensi bagi para ASN yang akan menjadi peserta didik di BPSDM Aceh, serta kebijakan apa yang harus diambil agar di masa mendatang kelemahan yang ada bisa ditutupi dan diperbaiki,” sambung Marthunis.
Marthunis menambahkan, penanganan bencana serta upaya mewujudkan ASN dan masyarakat yang tangguh bencana tidak semata membahas hal terkait infrastruktur dan pembangunan tetapi juga sektor ekonomi dan sosial budaya yang juga terimbas berat saat bencana terjadi.
“Karena itu, tahun ini BPSDM Aceh telah menjalin kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Singapura untuk mengikuti Pelatihan Perencanaan Kota yang Tangguh Bencana. Nantinya akan ada 20 ASN yang akan kita kirim ke sana pada Agustus mendatang. Seluruh biaya akan ditanggung oleh Singapore Cooperation Programme,” ungkap Marthunis.
Marthunis optimis, pelatihan yang akan diikuti oleh 20 ASN Aceh lintas sektor ini akan memberikan masukan yang sangat baik dalam upaya Aceh melakukan upaya penataan kota yang lebih baik dan tangguh bencana.
“Kita akan bekerja sama dengan SKPA terkait untuk menyaring 20 ASN yang akan kita kirim ke Singapura tentu saja sesuai kriteria yang dibutuhkan. Kita sangat komitmen untuk ini, karena sekembali dari pelatihan tersebut para ASN bisa merumuskan dan melahirkan kebijakan baru dan memiliki kompetensi yang jauh lebih baik,” pungkas Marthunis.
Sementara itu, Ketua Linka BPSDM Aceh Zalsufran menjelaskan, dirinya akan menjalankan Linka dengan komitmen tinggi sesuai yang ditugaskan Kepala BPSDM Aceh.
“Sesuai instruksi Kepala BPSDM Aceh, kami tentu akan fokus menjadikan Linka sebagai sebuah laboratorium bagi berbagai inovasi yang dihasilkan para ASN peserta didik yang tentu saja aplikatif dan berdayaguna dalam mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Aceh, khususnya untuk mewujudkan visi misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh,” ucap Zalsufran. []































