DUBAI – Amerika Serikat kembali menggempur Iran pada Minggu, 19 Juli 2026, dalam serangan udara malam kedelapan berturut-turut. Washington menyebut operasi itu sebagai balasan atas serangan Iran ke pangkalan AS di Yordania yang menewaskan dua prajurit Amerika, membuat satu personel hilang, dan melukai beberapa lainnya.
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan sasaran terbaru mencakup fasilitas pengawasan pantai, pertahanan udara, kemampuan maritim, serta gudang rudal dan drone Iran. Menurut pernyataan militer AS yang dikutip AP dan Al Jazeera, serangan itu ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Media Iran melaporkan beberapa titik yang diserang berada di sekitar Sirik, Provinsi Hormozgan, Pulau Qeshm, dan wilayah Shadegan di Khuzestan. Belum ada laporan resmi soal korban dari putaran serangan terbaru ini. Namun otoritas Iran sebelumnya menyebut sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 orang luka-luka dalam rangkaian serangan AS beberapa pekan terakhir.
Balasan Teheran juga meluas. Kantor berita Tasnim melaporkan militer Iran menargetkan aset AS di Kuwait, termasuk depot amunisi di Kamp Al-Adiri serta radar Patriot dan radar udara di Pangkalan Ali Al Salem. Kuwait dan Bahrain mengaktifkan sistem pertahanan udara pada Minggu pagi setelah memperingatkan adanya drone dan rudal Iran yang masuk.
Situasi ini cepat melebar dari duel langsung AS-Iran menjadi krisis kawasan Teluk. AP melaporkan pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Kuwait kembali diserang untuk kedua kalinya dalam dua hari. Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan jaringan listrik tetap stabil, tetapi serangan terhadap fasilitas air menjadi ancaman serius bagi negara gurun yang sekitar 90 persen air minumnya berasal dari desalinasi.
Iran juga mengirim sinyal keras kepada negara-negara Teluk lain. Kantor berita Fars, yang dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam, mengutip seorang pejabat anonim yang memperingatkan bahwa bandara Dubai dan Abu Dhabi serta pelabuhan Fujairah dan Jebel Ali harus dievakuasi jika serangan terhadap infrastruktur sipil Iran berlanjut. Uni Emirat Arab merespons dengan menyerukan pengekangan agar kawasan tidak terseret ke tingkat kekerasan yang lebih berbahaya.
Di pusat konflik ini ada Selat Hormuz. Jalur tersebut dilewati sekitar seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan dunia pada masa damai, menurut AP. Karena itu, setiap serangan di sekitar Hormuz langsung memicu kekhawatiran pasar energi, perusahaan pelayaran, dan negara pengimpor minyak, termasuk negara-negara Asia.
Washington dalam sepekan terakhir juga kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menghentikan pengiriman minyak mentah. Militer AS mengatakan telah mengalihkan lima kapal dan melumpuhkan satu kapal sejak kebijakan itu diterapkan. Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran untuk menekan Teheran agar mengendurkan kendalinya atas Selat Hormuz.
Dari pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei memperingatkan AS akan mendapat “pelajaran yang tak terlupakan” jika serangan terus berlanjut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga menyebut Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu dan tidak lagi menjalankannya.
Runtuhnya kesepakatan sementara itu membuat ruang diplomasi makin sempit. Serangan terbaru AS, balasan Iran terhadap pangkalan dan infrastruktur di negara Teluk, serta ancaman terhadap jalur pelayaran membuat konflik ini berisiko mengganggu pasokan energi global. Untuk saat ini, belum ada tanda kedua pihak siap mundur. Yang terlihat justru sebaliknya: setiap serangan dibalas dengan serangan baru, sementara negara-negara Teluk dipaksa hidup dalam status siaga.
Sumber: AP News, Al Jazeera, Reuters.































