Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase sensitif setelah Teheran menyatakan keraguan terhadap keseriusan Washington dalam proses pembicaraan yang berkaitan dengan perang dan isu nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap tersebut dalam forum BRICS di India. Ia menilai proses diplomatik masih dibayangi rasa tidak percaya, terutama karena Iran melihat tekanan Amerika Serikat dan sekutunya belum menunjukkan tanda mereda.
Isu nuklir tetap menjadi pusat ketegangan. Iran disebut membahas opsi terkait uranium dengan Rusia, sementara Amerika Serikat terus menekan agar program nuklir Iran berada dalam pengawasan yang lebih ketat.
Di tengah kebuntuan itu, kawasan Teluk tetap berada dalam situasi rawan. Negara-negara regional mencermati setiap sinyal dari Washington dan Teheran karena eskalasi kecil dapat berdampak besar terhadap keamanan energi dan perdagangan global.
Para pengamat menilai kedua pihak masih memiliki kepentingan untuk menjaga jalur komunikasi. Namun, tanpa kesepakatan yang jelas, diplomasi AS-Iran berisiko kembali terjebak dalam siklus ancaman, sanksi, dan respons militer terbatas.
Komunitas internasional berharap pembicaraan dapat diarahkan pada agenda yang lebih konkret, termasuk mekanisme pengawasan nuklir, pengurangan tekanan militer, dan jaminan keamanan kawasan.
































