Pelemahan rupiah dinilai lebih banyak dipengaruhi sentimen global daripada perubahan mendasar pada ekonomi domestik.
JAKARTA – Pemerintah menilai pelemahan rupiah belum mengubah gambaran besar ekonomi Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar disebut masih berkaitan erat dengan faktor eksternal, termasuk arah suku bunga global dan pergerakan dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, pelemahan rupiah tetap perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi biaya impor bahan baku, energi, dan barang modal. Sektor usaha yang bergantung pada komponen impor biasanya menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia masih mendapat dukungan dari konsumsi domestik dan aktivitas produksi dalam negeri. Pertumbuhan kuartal I-2026 yang berada di atas lima persen menjadi dasar pemerintah menyampaikan bahwa kondisi fundamental belum melemah.
Penguatan koordinasi fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas. Pemerintah dan otoritas terkait perlu memastikan inflasi tetap terkendali, cadangan devisa memadai, serta pasar keuangan tidak mengalami gejolak berlebihan.
Bagi masyarakat, stabilitas harga kebutuhan pokok akan menjadi ukuran paling nyata. Karena itu, pengendalian pasokan pangan dan energi tetap menjadi pekerjaan penting di tengah tekanan nilai tukar.
Sumber: BorneoFlash.com.
































