PARIS, 24 April 2026 (kutarajapost) – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara terbuka dan tegas menolak kebijakan blokade atau sanksi keras yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Eropa mulai memisahkan diri dan tidak lagi sejalan dengan tekanan Washington.
Dalam pernyataannya, Macron menegaskan bahwa cara pendekatan yang dipilih oleh AS, yang mengandalkan tekanan militer dan pencekikan ekonomi, bukanlah solusi yang tepat.
“Kami menolak blokade yang bersifat memaksa. Segala penyelesaian masalah harus dilakukan melalui perundingan yang sistematis dan berlandaskan pada diplomasi, bukan dengan ancaman perang atau melumpuhkan ekonomi negara lain,” tegas Macron.
Retaknya Kesatuan Barat
Pernyataan ini semakin memperlihatkan adanya keretakan yang nyata di antara negara-negara Barat. Sementara AS dan sekutunya cenderung menggunakan pendekatan keras dan agresif, Prancis justru memilih jalur dialog dan negosiasi yang lebih konstruktif.
Macron menekankan bahwa tekanan ekonomi yang ekstrem dan ancaman penggunaan kekuatan senjata tidak akan membawa hasil damai yang langgeng, melainkan hanya akan memperuncing konflik dan membahayakan stabilitas kawasan.
Dampak bagi Iran
Penolakan ini menjadi angin segar bagi Teheran, yang selama ini menghadapi isolasi internasional. Dukungan dari kekuatan besar Eropa seperti Prancis menunjukkan bahwa jalan politik dan diplomatik masih terbuka lebar untuk ditempuh.
Sumber: Press TV, Reuters, AFP, Euronews, dan Laporan Media Internasional.




























